Senin, 07 Februari 2011

Bolehkah Sholat Jum’at dijamak dengan sholat Asar …???



Perlu diketahui pengertian menjamak shalat adalah mengabungkan antara dua shalat (Zhuhur dan Ashar atau Maghrib dan Isya') dan dikerjakan dalam waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jamak taqdim dan jamak ta’khir.[1]

Jamak taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, contohnya Zhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Zhuhur, Maghrib dan Isya' dikerjakan dalam waktu Maghrib. Jamak taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.

Adapun jamak ta’khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, contohnya Zhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan Isya’ dikerjakan dalam waktu Isya’. Jamak Ta’khir boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam.[2]

Menjamak shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya -baik musafir atau bukan- dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur. Jadi dilakukan ketika diperlukan saja.[3]

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjamak shalat adalah musafir ketika masih dalam perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan,[4] turunnya hujan,[5] dan orang sakit.[6]

Berkata Imam Nawawi rohimahulloh: sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjamak shalatnya apabila di perlukan asalkan tidak di jadikan sebagai kebiasaan.[7]

Ibnu Abbas -radhiyallohuma- berkata, bahwasanya Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam menjamak antara Zhuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain; tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab: Bahwa Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak ingin memberatkan umatnya.[8]

Lalu bagaimana bila hari Jumat? Banyak ulama yang tidak membolehkan menjamak (menggabung) antara shalat Jumat dan Ashar dengan alasan apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan, dll. Walaupun orang tersebut adalah orang yang diperbolehkan menjamak antara Zhuhur dan Ashar.

Mereka berargumen dengan sebab tidak adanya dalil tentang menjamak antara Jumat dan Ashar, dan yang ada adalah menjamak antara Zhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya’. Jumat tidak bisa diqiyaskan dengan Zhuhur, karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dengan dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silakan dia menyebutkan dasar dan dalilnya. Namun, yang berpendapat membolehkan tidak akan mendapatkannya, karena tidak ada satu dalil pun dalam hal ini.

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami (tidak ada ajarannya) maka amalannya tertolak.”[9]

Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjamak dengan shalat lain.[10]

Demikianlah yang dirajihkan syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rohimahulloh dalam masalah ini.
Wallahu a’lam. (***)

Dikutip dari:
Rubrik Konsultasi Syariat Majalah Nikah Sakinah, Majalah keluarga bulanan, Vol. 9 no. 8

================
Catatan Kaki:
[1] Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317.
[2] Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab as-Shalah, Prof.Dr. Abdullah ath-Thayyar 177.
[3] Lihat Taudhihul Ahkam, al-Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317.
[4] Riwayat Bukhari dan Muslim.
[5] Riwayat Muslim, Ibnu Majah dll.
[6] Taudhihul Ahkam, al-Bassam 2/310, al-Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi al-Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317.
[7] Lihat Syarh Muslim, imam Nawawi 5/219 dan al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141.
[8] Riwayat Muslim dll. Lihat Sahihul Jami 1070.
[9] HR. Muslim.
[10] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar