Jumat, 16 April 2010

ANTARA DAKWAH RASUL DAN DAKWAH HIZBIYAH

ANTARA DAKWAH RASUL DAN DAKWAH HIZBIYAH
(Petunjuk Untuk Para Pejuang Khilafah)
Oleh : Abu Salma bin Rosyid
Dakwah para Rasul adalah dakwah tauhid yaitu menyeru manusia untuk beribadah seikhlas-ikhlasnya kepada Allah Azza Wa Jalla tanpa menyekutukan sedikitpun kepada ilah yang lain. Banyak ayat-ayat dalam Al-Quran dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan tentang perkara ini.

Allah Azza Wa Jalla berfirman :
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya:”Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”. (Al-Anbiya’:25)
Allah Azza Wa Jalla berfirman :
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. (An-Nahl:36)
Allah Azza Wa Jalla berfirman :
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada sesembahan yang haq (berhak disembah) bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).(Al A’raf :59)
Yang demikian ini karena Allah Azza Wa Jalla menciptakan makhluk tidak lain kecuali untuk beribadah kepada-Nya. Allah Azza Wa Jalla berfirman, Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka menyembah-Ku.(Adz-Dzariyat;56)
Diibadahi adalah hak Allah Azza Wa Jalla, sedangkan beribadah adalah kepada-Nya tanpa syirik sedikitpun adalah kewajiban hamba, dengan kewajiban ini seorang hamba akan mendapatkan hak atas Allah Azza Wa Jalla yaitu tidak mendapatkan siksa sedikitpun (tidak dimasukkan ke neraka).
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam kepada Muadz bin Jabal. ”Tahukan engkau apakah hak Allah atas hamba-Nya, dan apakah hak hamba atas Allah? Selanjutnya Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) bersabda, ”Hak Allah yang harus ditunaikan hamba-Nya adalah mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun; sedang hak hamba atas Allah adalah Allah tidak akan menyiksa orang yang tidak berbuat syirik sedikitpun”. (HR. Bukhari)
Itulah pelajaran terpenting bagi setiap maunisa (yang iman maupun yang kafir) yaitu diperintahkan beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla tanpa syirik sekecil apapun, karena kesyirikan akan menghapus amalan-amalan.
Allah Azza Wa Jalla berfirman :
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. Karena itu, maka hendaklah Allah saja kamu sembah dan hendaklah kamu termasuk orang-orang yang bersyukur”.Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.(Az-Zumar:65-67)
Berfirman pula Allah Azza Wa Jalla:
Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.(Al-An’am:88)
Beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla tanpa kesyirikan adalah dengan cara mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu menjadi orang yang beragama islam.
Allah Azza Wa Jalla berfirman :
Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (Ali Imran;85)
Islam yang harus diikuti adalah yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, yaitu yang terpenting adalah rukun Islam dan rukun Iman. Hal ini tergambar melalui hadits jibril yang sangat panjang.
Dari Umar berkata: Ketika disuatu hari kami duduk-duduk bersama Rasulullah (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam) muncullah seorang laki-laki berpakaian putih bersih, berambut hitam kelam, tidak tampak padanya bekas-bekas bepergian jauh, dan tak ada seorangpun dari kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk mendekat kepada Nabi (Shallallahu ‘Alaihi Wasallam), dengan menempelkan lututnya pada lutut Beliau, kemudian ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Beliau. Ia berkata, ”Wahai Muhammad, beritahu aku tentang islam.”
”Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : Berislam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad itu utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah bila kamu mampu melaksanaknnya”.
Orang itu berkata, ”Engkau benar”. Kami heran kepadanya, ia itu bertanya lalu membenarkannya.
Orang itu berkata lagi, ”Beritahu aku tentang iman”.
Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, ” Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan kepada qadar yang baik maupun yang buruk”.
Orang itu berkata, Engkau benar”. ……(HR. Muslim)
Begitulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada sahabat-sahabatnya tentang islam dan iman, dengan hadits dan yang semakna para ‘ulama menjelaskan pokok-pokok islam, pokok-pokok iman dan mengawali dakwahnya, menyeru kepada manusia untuk berislam.
Lebih rinci lagi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengajarkan kepada kita urutan-urutan dakwah, seperti hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ketika mengutus Muadz ke negeri Yaman, Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam berkata kepadanya, : Sesungguhnya Engkau akan mendatangi suatu kaum dari Ahlil Kitab, maka hendaklah yang pertama, serulah mereka untuk bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah. Dalam riwayat yang lain agar mereka mentauhidkan Allah. Maka apabila mereka telah mentaati engkau dalam perkara ini, ajarkan pada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka sholat lima waktu dalam sehari semalam, jika mereka telah mentaatimu dalam perkara ini, ajarkanlah bahwa Allah telah mewajibkan atas mereka Shodaqoh (Zakat) yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka dan dibagikan kepada orang-orang miskin di antara mereka. Jika mereka telah mentaatimu dalam perkara ini berhati-hatilah dengan harta-harta mereka yang mulia dan takutlah kamu dari doa orang-orang yang terdholimi karena tidak ada batas doa mereka (orang yang terdholimi itu) dengan Allah. (HR. Bukhari Muslim, dinukil oleh Asy-Syaih Muhammad abdul Wahhab dalam kitab Tauhidnya)
Demikian manhaj Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, dan juga manhaj orang-orang shaleh yang terdahulu dari kalangan ‘ulama. Oleh karena itulah Asy-Syaih Ibnu Wahhab mencantumkan hadits di atas dalam kitab Tauhidnya dengan judul Bab berdakwah kepada Syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah (Azza Wa Jalla)
Demikian juga ‘ulama-’ulama masa kini Asy-Syaih Ibnu Baz membuat kitab kecil yang sangat bermanfaat bagi kaum muslimin Durusul Muhimmah li Ammatil Ummah (Pelajaran Penting Bagi Seluruh Kaum Muslimin). Dengan buku tersebut beliau mengajarkan kepada kaum muslimin tentang rukun-rukun islam dan rukun-rukun iman, karena memang inilah pokok-pokok islam.
Tidak ketinggalan ‘ulama-’ulama lain menjelaskan perkara tersebut, tidak bosan, diulang-ulang karena pentingnya. As-Syaih Ahmad bin Yahya bin Muhammad An-Najmi menjelaskan tentang manhaj para Rasul dalam berdakwah, bahwa mereka mengawali dengan tiga hal yang kesemuanya adalah asas akidah :
1. Tauhid, Memberikan penghambaan diri kepada Allah Azza Wa Jalla yang Esa, tidak untuk selain-Nya dari tuhan-tuhan buatan manusia lalu mempersembahkan penghinaan dan penghambaan diri baginya disertai keyakinan bahwa ia dapat memberikan kemanfaatan, kemudharatan, memberi, menahan, memuliakan dan menghinakan.
2. Hari Kembali : Iman pada Hari Akhir dan semua kejadian yang ada di dalamnya; perhitungan, balasan, surga, neraka, ragam ni’mat surga, serta bermacam-macam adzab neraka.
3. Iman pada risalah-risalah langit: Para rasul ialah mediator yang menghubungkan makhluk dengan Allah Azza Wa Jalla dan penunjuk jalan-Nya, bukan apa yang diwariskan oleh nenek moyang, adat istiadat dan keyakinan masyarakat. (Mengenal tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin : 98, Cahaya Tauhid Press)
Dakwah seperti ini bukan berarti mengesampingkan mengajarkan amalan-amalan islam yang lain, akan tetapi ini adalah tahapan terpenting yang harus diutamakan untuk diserukan kepada sekalian manusia, ini adalah batas-batas manusia disebut sebagai orang islam atau orang kafir.
Adapun amalan-amalan lain merupakan amalan yang menjadikan kesempurnaan islam dan iman seseorang hamba, bukan suatu syarat bagi seseorang dianggap muslim atau kafir. Maka siapa saja yang mengucapkan La Ilaha Illallah dan mengerjakan shalat serta rukun-rukun islam yang lain dihukumi sebagai orang muslim dan diharamkan darahnya kecuali dengan hak-hak islam.
Dari ibnu ‘Umar radhiallahu anhuma bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tiada Sesembahan yang haq kecuali Allah (Azza Wa Jalla), dan bahwa Muhammad itu utusan Allah (Azza Wa Jalla), mendirikan shalat, menunaikan zakat. Bila mereka melakukan hal-hal itu, telah terjaga darah dan hartanya dariku, kecuali dengan hak-hak Islam. Dan hisabnya ada pada Allah Azza Wa Jalla. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dakwah seperti ini menjadikan persaudaraannya di atas islam dan iman yaitu di atas kaliamat tauhid. Allah Azza Wa Jalla berfirman:Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, oleh karena itu damaikanlah antara kedua saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah supaya kalian mendapat rahmat. (al-Hujuraat: 10)

Inilah dakwah persatuan dan persaudaraan di atas kalimat tauhid, maka dimana tempatnya, dimana jamannya, dimana negaranya, asalkan mereka muslim dialah saudara, berhak mendapatkan hak-hak islam seperti didoakan, diberi salam, diziarahi, diberi shodaqoh, diberi zakat, diberi nasehat dan hak-hak islam yang masih banyak.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendholiminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim)
Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya. Jangan mendholiminya dan jangan memasrahkannya. Barangsiapa yang membantu kebutuhan saudaranya, maka Allah akan membantunya. Dan barangsiapa yang memberikan jalan keluar dari kesulitan saudaranya, maka Allah akan memberikan jalan keluar bagi kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menutupi aib saudaranya, maka Allah akan tutupi aibnya pada hari kiamat. (HR. Bukhari Muslim)
Inilah makna persatuan, rahmat untuk sekalian ‘alam, tidak dibatasi teritorial, Amir-amir jama’ah hizbiyah ataupun penguasa-penguasa suatu negeri. Asal muslim adalah saudara. Berhak atas hak-hak Islam. Sehingga kita saksikan saat ini, kaum muslimin dapat melaksanakan haji bersama, saling memberi bantuan antar negara, saling mendoa serta berbagai wujud persatuan dan persaudaraan yang lain. Ini adalah sebagian nikmat dari nikmat Allah Azza Wa Jalla yang telah diberikan kepada hamba-hambanya dan kita semua harus terus berupaya mewujudkan pada diri masing-masing.
Maka untuk mewujudkan persatuan dan persaudaraan yang hakiki, tidak boleh tidak kita harus mengikuti Nabi-Nya dalam segala hal. Asy-Syaih Ahmad Najmi berkata setelah menukil ayat-ayat al-quran yang banyak, Beliau (Asy-Syaih Ahmad Najmi) menganjak kaum muslimin untuk mencontoh Nabi dalam dakwahnya , ibadah, muamalah, akhlak, pakaian, makan, minum, tidur, bangun, mencari harta, mengembangkannya, menginfaqkannya dan segala hal. Sedang dakwah mengajak menuju Allah Azza Wa Jalla itulah urusan paling prioritas dan teragung dalam dien ini, maka wajib atas kita untuk meneladani Beliau memulai, kita meletakkan dasar seperti peletakkan Beliau, serta kita memprioritaskan sendi yang Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam prioritaskan, sebagaimana juga para nabi seluruhnya yang telah diutus kepada suatu umat telah memprioritaskan sendi ini dalam mengajak ummatnya menuju Allah Azza Wa Jalla yaitu : Memerintahkan untuk bertauhid dan memperingatkan dari syirik.
Allah Azza Wa Jalla berfirman,
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”.(An-Nahl:36) (Mengenal tokoh-Tokoh Ikhwanul Muslimin : 133)
Namun Allah Azza Wa Jalla sedang menguji kaum muslimin, persatuan kaum muslimin terkoyak, bermula penjajahan dunia barat atas negeri-negeri Islam, muncullah dakwah yang mengatasnamakan persatuan kaum muslimin yang pada hakikatnya memecah belah ummat dari kebenaran. Muncullah dakwah yang memprioritaskan kepada khilafah. Sungguh dakwah ini tidaklah salah bahkan merupakan bagian dari dakwah kepada As-Sunnah. Akan tetapi yang menjadi permasalahan mereka mendakwahkan khilafah ini seolah-olah melebihi dakwah tauhid. Tidak terdengar mereka memerangi tauhid bahkan mereka tampak membiarkan kesyirikan dimana-mana. Mereka bersungguh-sungguh untuk persatuan tetapi meremehkan dalam perkara kesyirikan.
Semaraknya dakwah khilafah ini muncul pula di negeri kita Indonesia dengan model dakwah jama’ah. Dengan label persatuan kaum muslimin diwajibkan berbai’at kepada amir kelompoknya. Mereka membuat kaidah baru persatuan kaum muslimin dibangun diatas bai’at. Mereka mensyaratkan persyatuan kaum muslimin di atas satu Imam. Dengan persyaratan bid’ah ini menjadikan mereka terkotak dan memisahkan diri dari kaum muslimin. Menurut mereka yang masuk ke dalam jamaahnya adalah saudara dan yang tidak mau masuk ke jamaahnya adalah bukan saudara, bahkan musuh, mungkin juga ucapan musyrik ataupun kafir akan sampai kepada saudaranya yang tidak mau mengakui kepemimpinan kelompoknya.
Maka dengan keyakinan seperti ini mereka berkeyakinan bahwa dakwah kepada khilafah adalah sangat urger dan fundamental, yang semua ini dapat menimbulkan keyakinan bahwa persaudaraan dan persatuan harus dibangun diatas satu imam. Pada gilirannya nanti kafir atau islamnya seseorang dilegitimasi di atas bai’at dan tidak bai’atnya seseorang terhadap imamnya. Naudzubillahi min dzalik. Hal ini sangat mungkin muncul di dalam hati orang-orang jahil (bodoh). Tampaklah dengan jelas, dakwah persatuan mereka yaitu dakwah persatuan bid’ah. Yang mana persatuan menurut Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya di bangun di atas Tauhid (rukun islam) akan tetapi dakwah hizbiyah ini di bangun di atas bai’at.
Bahaya Dakwah Hizbiyah
Untuk melihat bahaya yang sangat mengerikan tentang dakwah hizbiyah marilah kita ikuti penjelasan As-Syaih Ahmad An-Najmi, semoga Allah Azza Wa Jalla menambahi Ilmu dan menjaganya. Syaih Ahmad berkata, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam Al-Fatawa : Tidak pantas bagi seorang guru untuk memecah belah manusia dan melakukan sesuatu yang dapat menyusupkan permusuhan dan kebencian dalam barisan mereka, bahkan harus menjadi saudara yang saling bantu dalam kebajikan dan takwa, sebagaiman firman Allah Azza Wa Jalla,
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolo9ng dalam berbuat dosa dan pelanggaran”. (Al-Maidah:2)
Tidak benar seseorang dari mereka mengambil sumpah dari seseorang untuk menyepakati semua yang dia kehendaki, berwala’ kepada siapa yang memberi wala’ kepadanya dan memusuhi siapa saja yang memusuhinya. Bahkan, barang siapa yang melakukan hal ini, maka dia serupa dengan jengiskhan cs. orang-orang yang menjadikan siapa saja yang sepakat dengannya sebagai sahabat karib dan menjadikan siapa yang menyelisihinya sebagai musuh besar.
Namun, kewajiban mereka dan para pengikutnya adalah berpegang pada sumpah yang telah mereka berikan kepada Allah Azza Wa Jalla dan Rasul Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bahwa mereka akan menaati Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengharamkan apa yang diharamkan Allah dan Rasul-Nya, serta menjaga hak-hak guru sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Kalau ada guru mana saja yang terdholimi maka hendaklah tiap muslim membelanya, bila sebaliknya…guru itu yang mendholimin maka tiap muslim tidak boleh membantunya di dalam kedholiman itu bahkan menahannya, sebagaimana yang telah tsabit dalam hadits shahih bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Bantulah saudaramu baik dia dholim atau terdholimi”. Maka ada yang bertanya, “Bagaimana saya membantu yang dholim?’ Beliau Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Engkau menahannya dari kedholimannya, maka itulah bantuanmu untuknya”.
Kalau terjadi sengketa antara guru dengan guru, murid dengan murid atau guru dengan murid, maka tidak boleh seorang membela salah satunya sampai mengetahui yang benar. Jangan membelanya dengan kejahilan dan hawa nafsu, akan tetapi lihatlah permasalahnnya, hingga jika telah tampak jelas kebenaran baginya, maka dia membela yang benar menghadapi yang salah, sama halnya fihak yang benar itu adalah sahabatnya atau shabat pihak lain serta sama halnya yang bersalah itu sahabatnya atau sahabat pihak lain. Dengan begitu, maka niat adalah beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla saja, ketaatan kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam mengikuti kebenaran dan menegakkan keadilan. Allah Azza Wa Jalla berfirman :
Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biar pun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya atau pun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjaan. (An-Nisa’:135)
Kemudian Ibnu Taimiyah menegaskan berikutnya; Apabila mereka berkumpul untuk menaati Allah Azza Wa Jalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wasallam serta membantu dalam kebajikan dan taqwa, maka tidak akan ada kebersamaan seseorang dengan yang lainnya di dalam segala hal kecuali kebersamaan itu adalah di dalam menaati Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam….Mereka tidak akan bersama seorangpun di dalam bermaksiat kepada Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, bahkan mereka akan saling membantu di dalam kejujuran, kebajikan, amar ma’ruf, nahi mungkar, membela yang terdholimin, serta semua urusan yang di sukai Allah Azza Wa Jalla dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ….Mereka tidak akan saling membantu di atas kedholiman, tidak untuk ta’ashshub Jahiliyyah, tidak untuk mengikuti hawa nafsu yang kosong dari hidayah Allah Azza Wa Jalla, tidak untuk berpecah belah, tidak pula untuk ikhtilaf.
Kemudian Syaih Ahmad berkata : Itulah potongan kalimat dari Sang Pena Agung tokoh pendidikan yang profesional Alim Muhaqqiq yang sangat dalam ilmunya tentang : As-Sunnah dan apa yang berlawanan dengan As-As-Sunnah, juga tentang bid’ah, apa yang mendekatinya dan perkara-perkara yang menyeret masuk ke dalamnya.
Pikirkanlah baik-baik perkataan beliau , maka akan engkau dapati padanya peringatan dari hizbiyah dan kelompok-kelompok, sebab padanya ada perpecahan dan pengkotakan yang menyebabkan timbul saling benci dan sengketa.
Kemudian Syaih Ahmad melanjutkan dengan menjelaskan, keburukan hizbiyah dengan meringkat penjelasan Syaih Bakar bin Abdullah Abu Zaid, yaitu :
1. Hizbiyah adalah bid’ah mungkar berdasarkan larangan yang terdapat dalam al-Qur’anul Karim, As-Sunnah Muthahharah dan perkataan Salaf .
2. Allah dan Rasul-Nya telah mencela hizbiyah, demikian juga salaf umat ini yang telah mengenal Islam dengan pengenalan yang hakiki telah mencelanya, sebab ia adalah tindakan melanggar persatuan umat Islam, umat yang telah diperintahkan oleh Allah Azza Wa Jalla untuk menjadi umat yang satu, Allah berfirman :
“Sesungguhnya (agana tauhid) ini, adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka bertakwalah kepada-Ku”.(Al-Mukminun:52)
3. Orang-orang yang berintima’ kepada hizbiyah menjadikan partai atau golongan sebagai poros wala’, bara’ cinta dan permusuhan. Hal ini penetangan, memerangi Allah dan Rasul-Nya dimana Allah telah menjadikan sebagai poros wala’ dan bara’ ialah iman pada allah dan Rasulullah. Allah berfirman :
Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat) Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah itulah golongan yang beruntung.(Al-Mujadilah:22)
4. Konsekwensi mutlak dari hizbiyah, adalah mengambil ahli bid’ah sebagai pemimpin-pemimpin yang diambil seluruh ucapannya, diikuti semua perbuatannya, serta menjadikan mereka sebagai panutan dan teladan. Juga ucapan, kaedah dan pendapatnya harus diterima bagitu saja walaupun menyelisihi kebenaran, itulah kebinasaan, demi Allah !!
5. Hizbiyah memiliki prinsip menerima pendapat-pendapat kelompok, menyebarkannya, serta menjadikan ketetapan pasti yang tidak lagi menerima kritik dan diskusi. Pendiri-pendiri mereka tidak pantas untuk dikritik dan disalahkan oleh pandangan para pengikut dengan demikian mereka telah menjadikan para pendiri tersebut sebagau tuhan-tuhan dan peletak syareat maka tepatlah jika ayat ini menimpa mereka:
Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.(At-Taubah:31)
6. Termasuk kemudharatan hizbiyah: Apabila hizbiyah merupakan sebab perpecahan sedang perpecahan adalah awal kehancuran kesatuan dan persatuan umat, maka banyaknya hizbiyah adalah sebab banyaknya manhaj pemikiran, berbilangnya manhaj pemikiran merupakan sebab berbenturan antar hizbi dan hal itu adalah sebab kekalahan yang diderita oleh kaum muslimin. Apakah mungkin satu umat yang tubuhnya sendiri terpecah-belah kemudian tegak di hadapan musuh ??
7. Diantara kemudharatan hizbiyah : penunaian syi’ar ibadah yang diperintahkan oleh syareat, berubah dari kewajiban penghambaan diri kepada Allah menjadi kewajiban hizbi, sehingga iapun mengotori keikhlasan andai tidak menghancurkannya, akhirnya yang diperhatikan dalam penuaian ibadah hanya ridha hizbinya bukan ridha Allah.
8. Kalau pemimpin hizbi memerintah untuk antusias mengerjakan suatu amalan mustahab (sunnah) dan menekankannya, maka para pengikut akan semangat hingga mereka merubahnya menjadi suatu kewajiban, maka jadilah yang mustahab itu wajib bagi anggota hizbi. Dengan demikian mereka telah memberikan hukum yang berbeda dengan ketetapan syareat yang diletakkan oleh Allah dan Rasul-Nya
9. Termasuk keburukan hizbiyah : perpecahan. Kadang suatu hizbi terpecah lagi menjadi dua atau beberapa hizbi, sebagaimana dikatakan bahwa kuman itu berkembang biak. (sampai di sini ucapan Syaikh Ahmad An-Najmi)
Mengahiri pembahasan dalam bab ini, sekali lagi saya utarakan bahwa persatuan menurut dakwah tauhid adalah persatuan di atas rukun Islam dan rukun Iman, secara spesifik Allah Azza Wa Jalla memberi pedoman yaitu mereka yang mendirikan sholat dan membayar zakat adalah saudara seagama. Maka siapa saja orang mengucapkan dua kalimah syahadat, mendirikan dan membayar zakat dialah saudara seagama, haram darahnya dan masih mendapat hak-hak islam seperti didoakan, dinasehati dan hak-hak islam yang lain.
Maka tujuan dakwah ini adalah mengajak manusia mentauhidkan Allah Azza Wa Jalla yaitu mengajak manusia beridah kepada Allah Azza Wa Jalla saja tanpa kesyirikan dan mengajak manusia beribadah dengan syariat yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam.
Inilah dakwah kepada Al-Jamaah Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud tentang Al-Jama’ah :
الْجَمَاعَةُ مَا وَافَقَ الْحَقَّ وَإِنْ كُنْتَ وَحْدَك
Al-Jama’ah adalah apa yang mencocoki kebenaran walaupun engkau sendiri.
Hingga untuk menjadi Al-Jama’ah tidak boleh tidak kita harus mengamalkan Islam ini sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabatnya dalam segala perkara, baik dalam tauhidnya, dakwahnya, ibadahnya, muamalahnya dan yang lainnya, termasuk juga dalam mensikapi perpecahan umat dan mensikapi penguasanya. Itulah Al-Jama’ah.
Demikian juga ucapan para ‘ulama Imam Al Barbahary dan Ibnu Katsir jama’ah adalah kebenaran dan pengikutnya. (Ust.Abu Muhammad Dzulqornain :An-Nasihah Online, dalam artikel Siapakah Ahlussunnah wal jamaah)
Tampaklah bahwa yang namanya Al-Jama’ah itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya dari kalangan tabiin, tabiut-tabiin, dan seluruh ahli hadits dari dulu hingga hari kiamat. Dan semua mereka telah sepakat wajibnya taat pada penguasa muslim dalam perkara ma’ruf , dilarang memberontak selagi mereka masih menegakkan shalat.
Oleh karena itu janganlah mengaku sebagai Al-Jama’ah tetapi berusahalah menjadi Al-Jama’ah dengan meniti jalan-jalan mereka yang telah tertulis di dalam Al-Qur’an, kitab-kitab hadits dan kitab-kitab para ‘ulama yang lain. Semoga Allah Azza Wa Jalla mudahkan kita beramal seperti mereka dan mengggolongkan kita semua dengan mereka. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.
Majmu’ Al-Fatawa XXVIII/15-17
Pada kesempatan ini kami nukilkan dengan ringkas, karena keterbatasan tempat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar